Candi Borobudur: Wawasan Sejarah, Arsitektur, dan Makna, Warisan Leluhur


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Budha sebagai situs Warisan Budaya Dunia, yang telah diresmikan tahun 1991. Kemegahan dan keindahan arsitektur yang ditampilkan Borobudur, beserta ukurannya mempunyai nilai sejarah dan makna luhur bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur dan sekitarnya menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami narasi sejarah, arsitektur dan makna simbolis bangunan ini lebih dekat. Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan penjelasan tentang Borobudur dengan lebih baik. Jelajah dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Pemandangan Borobudur
Candi Budha diatas bukit. Lokasi ini memiliki makna mendalam, melambangkan pusat alam semesta dalam kosmologi Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.


Menjelajahi dan mempelajari sejarah, arsitektur, dan makna simbolis Candi Borobudur sebagai situs warisan budaya dan tempat ibadah bagi umat Budha, merupakan hal yang istimewa. Kesempatan yang menarik ini, akan memberikan Anda pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah, arsitektur dan makna simbolis Candi Borobudur, jika hanya memahaminya sendiri. Ini adalah apresiasi dan kontribusi Anda untuk melestarikan, melindungi, dan menjaga warisan budaya leluhur kita.

Candi Borobudur
Candi Budha desain Mandala, diagram suci melambangkan alam semesta dalam kepercayaan Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Tentang Candi Borobudur: Sejarah, Arsitektur, dan Makna Simbolis


Stupa Borobudur
Borobudur, representasi dari kosmologi Budha yang kompleks. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Candi Borobudur, situs warisan budaya dan tempat ibadah umat Budha, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, lebih dari sekadar bangunan batu yang megah. Lebih dari itu, adalah teks suci tiga dimensi, manifestasi fisik dari ajaran Budha yang mendalam, dan representasi dari kosmologi Budha yang kompleks. Kehebatan arsitektur yang ditampilkan oleh Borobudur adalah satu mahakarya, yang memiliki makna mendalam sebagai bangunan suci Budha bagi masyarakat Indonesia.

Candi Borobudur, adalah mahakarya arsitektur Budha Mahayana yang megah, warisan dari Dinasti Syailendra abad ke-9 di Jawa. Bangunan suci ini merupakan wujud kosmologi Budha dan perjalanan spiritual menuju pencerahan melalui tiga tingkatan: dunia keinginan (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Dihiasi dengan relief Budha dan kisah Jataka, deretan stupa melingkar yang mengarah ke stupa utama di puncak mencerminkan perpaduan seni Jawa kuno dengan pengaruh India. Borobudur adalah bukti kehebatan teknik konstruksi kuno yang murni.

Sekilas Sejarah Borobudur


Meskipun tidak ada catatan pasti tentang pendiri Candi Borobudur, para sejarawan memperkirakan bahwa bangunan suci Budha ini dibangun antara abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Periode ini sesuai dengan periode antara tahun 760 dan 830 Masehi, pembangunan dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu lebih dari 75-100 tahun dan sepenuhnya selesai pada masa pemerintahan putrinya, yakni Pramodhawardhani, yang menganut agama Budha Mahayana.

Borobudur merupakan bangunan suci yang besar dan megah. Candi ini dirancang di atas bukit alami di dataran Kedu yang hijau dan subur, menurut legenda Jawa bahwa daerah ini terkenal sebagai "Taman Jawa". Borobudur berada dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah barat, serta Pegunungan Menoreh di sebelah selatan. Bangunan suci ini memiliki makna filosofis yang mendalam, melambangkan posisi Borobudur sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Budha.

Candi Borobudur adalah situs suci dan pusat ziarah Budha yang vital. Namun, seiring waktu, bangunan suci ini secara bertahap ditinggalkan. Beberapa teori menyatakan bahwa Candi Borobudur tersembunyi dan terabaikan selama berabad-abad, terkubur di bawah lapisan tanah dan abu vulkanik, kemudian ditumbuhi pepohonan dan semak-semak, sehingga menyerupai bukit. Alasan pasti pengabaiannya masih belum jelas, begitu pula kapan struktur suci ini berhenti menjadi pusat ziarah Budha.

Narasi sejarah menyebutkan beberapa kemungkinan Borobudur ditinggalkan oleh para penganut agama Budha, yakni pada sekitar kurun waktu 928 hingga 1006, Raja Mpu Sindok telah memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi. Menurut Soekmono (1976) mengajukan suatu pendapat bahwa bangunan suci ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15. Namun faktor-faktor ini tidak dapat dipastikan sebagai penyebab Borobudur ditinggalkan, tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin bangunan suci ini mulai ditinggalkan pada periode ini.

Candi Borobudur terlupakan selama berabad-abad, tertutup abu vulkanik dan vegetasi hutan tropis. Meskipun demikian bangunan suci ini tidak pernah lepas dari ingatan orang-orang disekitar. Disebutkan paling awal secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yakni "Wihara di Budur".

Menurut sejarah pada tahun 1814, menjelaskan Sir Thomas Stamford Raffles pernah menjabat dalam pemerintahan sebagai Gubernur Jendral Inggris di Jawa, mengetahui keberadaan tentang bangunan besar ini didalam bukit dekat Bumisegara. Ketertarikannya mengantarkan dalam penelitian guna membersihkan dan menggali bangunan besar yang berada didalam bukit. Sehingga Raffles dikenal oleh dunia sebagai penemu Candi Borobudur, dan atas jasa-jasanya telah memperkenalkan serta menandai awal era penemuan kembali dan upaya pelestarian bangunan suci ini.

Arsitektur Borobudur


Borobudur adalah candi atau kuil Budha berbentuk stupa yang didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Bangunan ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.

Candi Borobudur adalah mahakarya arsitektur Budha, warisan sejarah Dinasti Syailendra yang ada di Jawa. Bangunan suci ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Stupa utama terbesar teletak di tengah, sebagai mahkota bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha duduk bersila dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra, yang artinya memutar roda dharma.

Sebagaimana tempat suci, Borobudur melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan melalui tiga tingkatan, yang mewakili kosmologi Budha. Tiga tingkatan ini adalah alam keinginan (Kamadhatu), alam bentuk (Rupadhatu), dan alam tanpa bentuk (Arupadhatu). Dihiasi dengan relief-relief Budha dan kisah-kisah Jataka, rangkaian stupa melingkar yang mengarah ke stupa utama di puncak mencerminkan perpaduan seni Jawa kuno dengan pengaruh India.

Bangunan megah ini merupakan bukti kecanggihan peradaban Mataram kuno dalam mengintegrasikan kepercayaan spiritual dengan seni dan arsitektur yang tak tertandingi. Kepiawaian tehnik rancang bangun Borobudur, telah menjadikannya warisan budaya yang tidak hanya memikat mata tetapi juga menginspirasi jiwa melalui narasi visualnya yang kaya secara filosofis. Kemegahan dan keindahan sekilas dapat ditemukan pada penjelasan berikut dalam Candi Borobudur.

Bangunan Suci Berundak

Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Budha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Budha di Jawa. Borobudur memiliki arsitektur yang unik dan megah, mencerminkan kecanggihan teknik konstruksi pada masa lalu. Bangunan megah ini terdiri dari sepuluh tingkat, melambangkan tahapan-tahapan kehidupan manusia dalam perjalanan menuju pencerahan dalam ajaran Budha.

Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur yang bersifat relatif dan sedikit berbeda dengan candi-candi lainnya, akan tetapi tetap pada bangunan ini. Arkeolog menjelaskan bahwa satuan ukur ini memiliki fungsi dan arti makna pada penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga terdapat pada candi yang lain yaitu Angkor Wat di Kamboja.

Secara keseluruhan, Candi Borobudur memiliki denah lantai berbentuk mandala, sebuah diagram suci dalam agama Budha. Borobudur jelas terbagi menjadi tiga tingkatan utama, yang mewakili tiga alam atau tahapan eksistensi dalam kosmologi Budha yang harus dilalui manusia dalam pencarian mereka untuk mencapai nirwana. Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha adalah:

Kamadhatu
Ini merupakan bagian dasar, pondasi bangunan, melambangkan dunia yang masih didominasi oleh kama, atau "keinginan rendah."

Pada bagian dasar ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diyakini telah digunakan untuk memperkuat struktur bangunan. Dasar aslinya berisi 160 panel relief, menggambarkan kisah dalam teks Karmawibhangga, yang sekarang tersembunyi. Sebagian kecil dari struktur tambahan di sudut tenggara telah dibuka, memperlihatkan beberapa relief cerita. Struktur batu andesit yang menutupi dasar asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.

Rupadhatu
Rupadhatu adalah empat undak teras yang membentuk koridor melingkar, dengan dinding yang dihiasi galeri relief cerita, serta lantainya berbentuk persegi panjang.

Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief cerita. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.

Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan, melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong yang ada di Rupadhatu yang kaya akan relief cerita, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak memiliki relief cerita. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud. Denah lantai berbentuk lingkaran. 

Tingkatan ini melambangkan alam atas, dimana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk.

Rancang Bangun

Candi Borobudur memiliki desain yang berbeda dengan rancangan candi-candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.

Para arkeolog menduga bahwa desain asli Borobudur mencakup sebuah stupa besar tunggal yang berada di puncak. Karena berat stupa yang sangat besar, hal itu membahayakan struktur dan dasar kaki candi. Para arsitek yang merancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan menggantinya dengan tiga baris stupa yang lebih kecil dan satu stupa utama, seperti yang terlihat saat ini.

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasar berukuran 123 × 123 m dengan tinggi 4 meter. Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya, menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter.

Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.

Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen.

Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief cerita dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding selesai.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Stupa

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Budha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur berfungsi sebagai stupa, bangunan suci untuk memuliakan Budha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Budha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Tingkatan tertinggi menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan dengan stupa utama yang terbesar dan tertinggi. Stupa utama berada di puncak, digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Relief Cerita Bermakna
Pada dinding candi di setiap tingkatan, kecuali pada teras – teras Arupadhatu dipahatkan panel – panel relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Budha.

Relief Borobudur menerapkan disiplin seni rupa India, berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Borobudur menampilkan banyak gambar, seperti buku yang mencatat berbagai aspek kehidupan, merujuk pada ukiran relief. Terdapat 2.672 panel relief diukir di sepanjang dinding dan pagar langkan. Relief-relief ini menggambarkan kisah-kisah Budha, ajaran moral, dan kehidupan sosial masyarakat. Relief-relief ini dibaca searah jarum jam, atau "mapradaksina" yang berarti timur.

Pada dasar kaki candi, relief di dinding batur yang tertutup Karmawibhangga menggambarkan hukum karma, ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Secara keseluruhan merupakan gambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir.

Relief Lalitavistara merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama Budha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Budha dari surge Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Budha yang di sebut dharma.

Relief Jataka merupakan berbagai cerita tentang Sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia.

Setiap tingkatan, relief, dan stupa di Borobudur memiliki makna religius dan simbolis yang dirancang untuk membimbing para peziarah dalam perjalanan spiritual mereka menuju pencerahan, mencerminkan tingkatan alam semesta dan tahapan pembebasan dari samsara.

Mudra Arca Budha

Selain wujud Budha dalam kosmologi agama Budha yang terukir di dinding, Borobudur terdapat banyak arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Terdapat 504 arca Budha yang tersebar di seluruh candi. Setiap arca memiliki posisi tangan (mudra) berbeda-beda, melambangkan ajaran Budha yang berbeda.

Arca Budha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Budha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang).

Secara sepintas semua arca Budha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus di antaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Budha, dengan makna simbolisnya tersendiri.

Seluruh arsitektur Candi Borobudur tidak hanya berfungsi sebagai bangunan tetapi juga sebagai "buku tiga dimensi" yang mengajarkan filsafat Budha kepada para peziarah. Setiap elemen arsitektur memiliki makna simbolis yang mendalam, menjadikan Candi Borobudur sebagai mahakarya arsitektur keagamaan yang tak tertandingi.

Makna Filosofis dan Simbolis Borobudur


Borobudur bukan hanya bangunan megah, melainkan representasi visual dari ajaran kompleks Buddhisme. Setiap elemen arsitektur dan ornamen-ornamennya memiliki makna dan simbolisme filosofis yang mendalam, mencerminkan pandangan kosmologis Budha tentang alam semesta dan perjalanan spiritual manusia.

Bangunan megah ini merupakan bukti nyata kecanggihan peradaban Mataram Kuno dalam mengintegrasikan kepercayaan spiritual dengan seni dan arsitektur, menjadikannya warisan budaya dunia yang tidak hanya memikat mata tetapi juga menginspirasi jiwa melalui narasi visualnya yang kaya secara filosofis.

Setiap tingkatan, relief, dan stupa di Borobudur memiliki makna religius dan simbolis yang dirancang untuk membimbing para peziarah dalam perjalanan spiritual mereka menuju pencerahan, mencerminkan tingkatan alam semesta dan tahapan pembebasan dari samsara.

Candi Borobudur memiliki sekilas makna filosofis dan simbolisme yang mendalam sebagai bangunan suci agama Budha, yakni:

Desain Mandala

Keselarasan teknik arsitektur dan desain keseluruhan Candi Borobudur dapat dipahami sebagai mandala besar, yakni diagram kosmologis yang mewakili alam semesta dalam ajaran Budha. Sepuluh tingkat Borobudur mewakili Dasabodhisattvabhumi, sepuluh tahapan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai Kebuddhaan.

Candi Borobudur dibangun sebagai situs suci dan berfungsi sebagai tempat ziarah bagi mereka yang mencari pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi, menurut ajaran Budha. Sepuluh halaman Borobudur mewakili filsafat Mahayana, sekaligus menggambarkan kosmologi, konsep alam semesta, dan tingkatan pikiran dalam ajaran Buddha.

Borobudur Mandala, lambang alam semesta kosmologi Budha.

Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Budha. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.

Borobudur Mandala, lambang alam semesta kosmologi Budha. Para peziarah yang mengelilingi candi (pradakshina) tampak sedang melakukan perjalanan spiritual yang terarah dan terencana. Borobudur jelas terbagi menjadi tiga tingkatan utama, yang mewakili tiga alam atau tahapan eksistensi dalam kosmologi Budha yang harus dilalui manusia dalam pencarian mereka untuk mencapai nirwana:

Kamadhatu (alam keinginan): Dasar candi, melambangkan dunia manusia yang masih terikat oleh keinginan dan nafsu duniawi. Tingkat terendah dan paling dasar, menggambarkan konsekuensi dari perbuatan buruk, hukum sebab dan akibat (karma) yang terjadi di dunia fana.

Rupadhatu (alam bentuk): Bagian tengah candi, melambangkan dunia di mana manusia telah membebaskan diri dari keinginan tetapi masih terikat oleh bentuk dan rupa. Di sinilah ribuan panel relief cerita menggambarkan kisah kehidupan Gautama Budha (Jataka dan Lalitavistara) dan ajaran Dharma (Gandavyuha dan Avadana). Setiap relief merupakan ilustrasi visual dari sebuah perjalanan spiritual.

Arupadhatu (alam tanpa bentuk): Bagian atas candi, yang melambangkan dunia tanpa bentuk dan keinginan, tempat para Budha dan Bodhisattva bersemayam. Tingkat teratas, yang melambangkan alam tertinggi, dunia tanpa bentuk, di mana semua keterikatan materi telah lenyap dan individu telah mencapai pencerahan sempurna (nirwana). Kebebasan dari bentuk dan keinginan dilambangkan oleh stupa berlubang yang berisi patung Budha yang tidak terlihat dari luar, serta stupa utama yang kosong di puncak.

Desain keseluruhan Candi Borobudur dimaksudkan untuk membimbing para peziarah dalam perjalanan spiritual mereka. Dimulai dari dasar candi, yang melambangkan dunia keinginan, para peziarah secara bertahap naik melalui tingkatan yang melambangkan pembebasan dari keterikatan duniawi, akhirnya mencapai puncak, yang melambangkan kekosongan dan pencerahan sempurna.

Ajaran Bermakna


Di luar tingkatan-tingkatan tersebut, setiap elemen Borobudur berfungsi sebagai media untuk menyampaikan ajaran. Dengan lebih dari 2.672 panel relief yang membentang sepanjang 5 kilometer, Borobudur adalah ansambel relief Buddha terbesar dan paling lengkap. Relief-relief ini dibaca dari kiri (searah jarum jam), mengikuti ritual pradakshina. Relief-relief ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga berfungsi sebagai buku yang menceritakan kisah kehidupan Budha, dari kelahiran hingga pencerahannya. Menggambarkan konsekuensi karma baik dan buruk. Mengilustrasikan perjalanan Bodhisattva menuju Kebuddhaan.

Relief di dinding candi menceritakan kisah kehidupan dan ajaran Gautama Budha. Relief Karmawibhangga di dasar candi, yang sekarang ditutup, menggambarkan hukum sebab dan akibat (karma). Relief Lalitavistara menggambarkan kehidupan Budha dari kelahiran hingga pencerahan. Relief Jataka dan Avadana menceritakan kisah kehidupan masa lalu Budha.

Lebih dari 500 patung Budha tersebar di seluruh tingkatan, masing-masing dengan posisi tangan (mudra) yang berbeda, melambangkan ajaran atau momen penting dalam kehidupan Budha. Patung-patung di Rupadhatu terbuka, sedangkan yang di Arupadhatu tersembunyi di dalam stupa berlubang, melambangkan kemajuan spiritual.

Stupa-stupa di teras Rupadhatu merupakan stupa-stupa kecil yang memiliki fungsi sebagai penanda atau pelengkap visual. Sedangkan stupa-stupa berlubang di teras Arupadhatu merupakan ciri khas di teras atas, yang melambangkan kekosongan dan kesempurnaan pencerahan. Stupa-stupa ini berisi patung Budha "tersembunyi", menunjukkan bahwa kebenaran tertinggi tidak lagi terikat oleh bentuk. Terdapat stupa utama dan terbesar di puncak adalah titik tertinggi candi, melambangkan nirwana, atau kesempurnaan tertinggi, di mana semua bentuk dan keinginan lenyap.

Fungsi utama Borobudur selama pembangunannya adalah sebagai tempat ziarah dan meditasi bagi umat Budha. Para peziarah memulai perjalanan mereka dari dasar Kamadhatu, merenungkan konsekuensi perbuatan mereka di dunia ini, kemudian naik melalui Rupadhatu, mempelajari ajaran dan kisah Budha, dan akhirnya mencapai Arupadhatu, merasakan ketenangan nirwana. Setiap langkah, setiap panel relief, adalah bagian dari proses pembelajaran dan penyucian diri.

Orientasi candi, susunan stupa, dan relief yang detail semuanya dirancang untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi refleksi spiritual. Struktur ini bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang pengalaman batin.

Borobudur adalah bukti kejeniusan" peradaban masa lalu yang mampu menciptakan warisan yang tak ternilai harganya, tidak hanya secara arsitektur, tetapi juga karena makna religius dan kosmologisnya yang mendalam. Ia tetap menjadi inspirasi bagi pencarian spiritual dan pembelajaran tentang keindahan dan kekayaan warisan budaya.

Dengan memahami makna filosofis dan simbolisme Candi Borobudur, kita dapat lebih menghargai kedalaman pemikiran dan spiritualitas yang mendasari pembangunan monumen megah ini. Candi Borobudur bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga 'kitab batu' yang mengajarkan kebijaksanaan Buddha melalui bahasa visual yang sangat kaya dan kompleks.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Narasi sejarah Borobudur menjelaskan panel relief berukir di dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, yang menyebutkan persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada Brahmana. Relief yang menjelaskan, 'Upanat' merupakan alas kaki yang dikenakan saat mengunjungi Candi Borobudur.

Kunjungan yang bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut tentang Borobudur, berpartisipasi dalam tur tematik, dan mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur warisan budaya leluhur. Ini merupakan bentuk apresiasi dan pemahaman tentang Borobudur, serta berperan dalam menjaga, melestarikan dan melindungi situs warisan budaya dunia dengan lebih baik.

Candi Borobudur
Adalah Borobudur, candi Budha Mahayana, dibangun abad ke-9 masa pemerintahan Wangsa Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, perpaduan budaya asli pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Konon, Chandi Borobudur terletak tepat di puncak bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan bukit. Ke arah barat, Anda akan menemukan Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Ke arah timur, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Ke arah utara, sekitar 15 kilometer dari Borobudur terletak Bukit Tidar, dan ke arah selatan, berbatasan dengan Bukit Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai, Progo dan Elo, di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Chandi Borobudur adalah candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar. Candi ini memiliki stupa terbesar di tengah, dikelilingi oleh 72 stupa berlubang, dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 patung Budha.

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Bangunan ini dirancang dengan gaya arsitektur Budha Jawa, menggabungkan pemujaan leluhur khas Indonesia dengan konsep filosofis Buddha tentang pencapaian Nirvana.

Comments

Popular Posts